Cerita Mudik 2016 (Jalur Pantura)




Hai, good travellers!

Tahun lalu gue udah share pengalaman mudik gue menuju kampung halaman, Pacitan di Jatim dari Tangerang naik motor, via jalur pantura. Dan tahun ini pun gue ulang lagi pengalaman itu, tentunya masih setia dengan motor semata wayang hehehe. Gak cuma cerita perjalanannya aja, tapi kali ini gue juga pengen bagi cerita, dalam bentuk video juga tentang serba serbi di kampung halaman gue. Pastinya mulai dari perjalanan mudik, moment-moment idul fitri, sampai ladang dan beberapa hewan piaraan hahaha. So, enjoy the story!


Related story:  Cerita Mudik 2015 - Part 1
                      Cerita Mudik 2015 Part 2


Perjalanan Mudik (2-3 Juli 2016)
Start dari Tangerang tahun ini lebih santai dan gak perlu buru-buru kaya tahun-tahun sebelumnya. Dengan preparasi yang maksimal mulai dari kendaraan dan barang bawaan, jam setengah 7 pagi gue berangkat dari Tangerang, tentunya menuju arah Jakarta, dan Bekasi via Pulogadung. Meski kebanyakan pemudik lebih meminati jalur Kalimalang, netah kenapa gue lebih suka lewat Pulogadung lalu mengarah ke Bekasi, Karawang dan seterusnya. Seperti tahun lalu, kalau berangkat pagi menurut gue lebih berasa fresh ketimbang malam. Banyak pemudik memilih perjalanan malam dari ibukota dengan alasan menghindari cuaca panas terik, terlebih musim mudik pas bulan puasa. It's OK lah! tapi banyak juga yang memilih berangkat pagi. Sudah biasa saat lewat Bekasi, terutama saat akan melintas depan terminal dan pusat-pusat perbelanjaan lalu lintas agak tersendat. tapi selanjutnya, sampai Cikampek, Subang, Indramayu lancar jaya. Jam 2 siang, gue udah sampai di perbatasan Indaramayu-Cirebon. Dari sini gue masih harus mengarah ke arah Palimanan, yang biasanya lalu lintasnya ramai karena banyak sekali pemukiman dan pertokoan di tepi jalan. Alhasil, karena lewat sini pas jam-jam aktivitas kota yang tinggi, jam 5 sore gue baru bisa keluar dari Cirebon dan bertemu dengan perbatasan Cirebon-Brebes yang sekaligus batas provinsi Jabar dan Jateng. Di sinilah drama dimulai. Masih ingat tragedi paling hits di mudik tahun ini? BREXIT. Brebes exit, alias Exit Tol Brebes Timur yang jadi trending pembicaraan musim mudik 2016 gara-gara kemacetan parahnya. Penumpukkan kendaraan di exit tol yang juga bertemu dengan arus mudik jalur Pantura di Brebes gak cuma mengakibatkan stuck di tol Brebes berkilo-kilo meter, tapi juga berpengaruh ke arus mudk yang berasal dari arah Cirebon menuju Brebes dan Tegal. Gue masuk Brebes jam setengah 6 sore, dan baru bisa keluar hingga masuk Kota Tegal jam 8 malam. Sungguh pemborosan waktu banget! Kurang lebih 3 jam motor cuma gerak sekian meter aja, selebihnya kadang stuck dan bisa jalan pun harus selap-selip di pinggir, bahkan di tengah-tengah di antara mobil-mobil dan bisa gede khas pantura. Sebenarnya ini adalah kelebihan mudik naik motor. Ketika terjebak kemacetan masih bisa cari jalan dengan cara 'selap selip' hehehe. Tapi tetep harus hati-hati juga guys, karena nyetir motor  bukan cuma masalah handal keluar dari kemacetan, tapi juga mengutamakan keselamatan.


Salah satu capture view kemacetan di Brebes




Lepas dari Brebes, gue lanjut menuju Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. Melintas di 3 kota ini perjalanan gue sedikit 'diganggu' dengan gerimis. Awalnya gue cuek, dan males pake jas hujan. Tapi lama-lama kok basah sampe tembus ke dalam baju? Ternyata hujannya makin deres. Jam 11 malam, gue putuskan berhenti di sebuah rumah makan di Pekalongan, dan tempat ini adalah tempat gue makan sahur mudik 2014 lalu. Jadi bisa dibilang nostalgia dikit lah. Selesai makan, gue pengen lanjutin perjalanan, tapi nyatanya di luar masih ujan. Sambil nunggu reda ngobrol-ngbrol dulu sama bapak-bapak penjaga parkiran. Sekitar jam setengah 1 malem,gue lanjutin perjalanan menuju Kabupaten Batang, dan bersiap menuju alas roban!


Berhenti di daerah Subah, Batang, menunggu hujan reda :(


Udara mulai dingin, terlebih gerimis masih suka ganggu. Sampe di daerah Subah, Kabupaten Batang, gue terpaksa berhenti di pinggir jalan di depan sebuah toko buat neduh. Jujur gue paling gak nyaman sama ujan pas perjalanan jauh kaya gini.Tapi apa boleh buat, karena gue males pake jas ujan yang ujung-ujungnya juga basah juga, lebih baik gue berhenti nunggu ujan reda. Gue udah pasrah, niat awal berangkat pagi-pagi dari Tangerang biar sampe Pacitan besok pagi, tap selama perjalanan udah banyak banget cobaannya hohohoho...! Yasudahh, alon-alon sing penting sampe. Slow but sure!

Singkat cerita, setelah terbebas dari hujan, gue sampe di Kendal, artinya sebentar lagi gue udah masuk ke kota Semarang. Di Kendal, tepatnya jam 3 malam (ehh,, malam apa pagi yak?) gue niat sahur di sebuah rumah makan, dan lagi-lagi ini adalah tempat gue makan sahur mudik sebelumnya, lebih tepatnya tahun 2015. Setelah makan sahur, gue lanjutin perjalanan menuju Semarang, Ungaran, Salatiga sampai mengarah ke Boyolali dan Solo. Oia, buat kalian yang mungkin punya rute mudik sama kaya gue, saat masuk Salatiga kalian bisa pilih jalur lintas Salatiga (JLS) ketimbang lewat jalan kotanya. Karena lewat JLS pas musim mudik akan lebih cepet dan gak macet. Tapi harus hati-hati sama kontur jalanannya yang penuh tikungan dan juga naik turun. Selain itu banyaknya persimpangan atau perempatan sepanjang jalur ini mengharuskan kita buat tetap konsentrasi saat menyetir, meskipun sepanjang musim mudik banyak persimpangan atau traffic light yang dinonaktifkan biar pemudik lebih leluasa melintas.

Yang paling gue suka saat perjalanan mudik adalah saat melintas dari Semarang  menuju Solo. Mostly jalan rayanya udah lebar dan mulus, dan jauh dari kata macet kaya di pantura. Maklum, jalur ini emang gak seramai pantura. Tapi jangan salah, saat musim arus balik, jalur Solo-Semarang malah rame banget sama kendaraan pemudik yang mau balik ke kota. Gak heran kalo di beberapa titik daerah Boyolali tepatnya di Ampel, kadang sering terjadi penumpukkan kendaraan terlebih saat ada penyempitan jalan saat akan melintas di sebuah jembatan misalnya. Selain itu kontur jalanan juga naik turun, apalagi di kawasan Ungaran yang punya banyak tanjakan dan turunan tajam. Tetap jaga kecepatan kendaraan. Tapi overall, gue suka jalur Semarang-Solo ini. Apalagi kalo melintas di pagi hari. Feel fresh!! 


Masih di Wonogiri, menuju perbatasan Wonogiri-Pacitan (Jatim-Jateng)


Perjalanan mudik gue berakhir jam 2 siang saat gue tiba di kampung halaman di Pacitan. Kota kecil yang cuma setahun sekali gue tengokin. Maklum , resiko jadi anak rantau jauh dari kampung halaman. Dan ini kali ke 5 gue mudik naik motor. Total perjalanan mudik gue tahun 2016 ini adalah 30 jam, yang seharusnya bisa lebih cepat dari angka itu karena faktor Brexit dan cuaca. Untuk waktu istirahat gue selalu pakai saat jam-jam sholat. Tiap pemudik punya cara beda-beda saat istirahat melepas lelah waktu mudik. Ada yang bisa tidur di masjid, atau rest area lainnya selama beberapa jam. Tapi ga tau kenapa gue gak bisa kayak gitu hehhheee. Biasanya selesai sholat di masjid, beberapa menit (maksimal 30 menit) gue pakai rebahan bentar, atau cuma sekedar duduk-duduk. Tergantung sikon, kalo cape dan ngantuk banget, bisa sampai 30 menitan. Tapi kalo dirasa emang masih fit, ya lanjut! Mudik naik motor gak cuma kudu pinter atur kecepatan, tapi juga kesehatan fisik juga. Karena tujuan utama kita satu : SELAMAT SAMPAI TUJUAN :)

Just share cerita juga, buat perjalanan balik ke Tangerang, gue cuma perlu waktu 23 jam, lebih cepat 6 jam dari perjalanan mudik dan lebih cepat 1 jam dari perjalanan balik tahun kemarin , yeeeyy!! Alhamdulillah, saat arus balik lalu lintas dan cuaca lebih bersahabat so gue bisa lebih cepat sampe perantauan lagi. Tentunya berkat doa kedua orang tua juga hehehe. Dan di sini gue share video dokumentasi perjalanan mudik gue tahun 2016 ini. Check this out!



Moment Idul Fitri 1437 H

Gak ada yang spesial banget setiap idul fitri di keluarga gue. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selesai sholat ied, gue sekeluarga bareng bapak, ibu dan adek gue sarapan trus nyiapin jajanan lebaran di ruang tamu. Nah, untuk menu masakan lebaran biasanya ibu selalu bikin masakan spesial nih. Tahun-tahun sebelumnya bikin soto ayam, opor, dan gado-gado, rawon, dan tahun ini bikin pecel lele. Selain buat sarapan, menu khusus ini juga disediakan buat tamu atau sodara-sodara yang pengen nyobain masakan ibu ini. Jadi ibu pasti nawarin tamu-tamu yang juga sodara atau tetangga deket buat sarapan. Ada yang mau, ada juga yang malu-malu hehhehe. Buat yang mau nyobain masakan lebaran ibu gue, jangan khawatir, karena GRATIS hahaha. Dan mulai jam 7 pagi di kampung gue biasanya udah mulai keliling buat silaturahmi ke rumah-rumah tetangga. Dan pastinya tiap rumah punya menu masakan andalan masing-masing, sama halnya kaya ibu gue. Ada yang bikin baso, soto, dan pastinya hidangan-hidangan atau cemilan khas lebaran. Jadi kalo pas lebaran 'rajin' silaturahmi ke rumah-rumah tetangga atau saudara, dijamin kenyang! Hahaha...  

Dan kali ini gue juga share video saat moment idul fitri di rumah gue, plus video yang spesial gue edit buat bapak gue, karena ini adalah dokumentasi tentang isi dari ladang yang selama ini dipakai bapak gue buat berativitas. Selain sawah, ladang pun ramai dengan segala isinya alias tanaman-tanaman, mulai dari tanaman pohon, buah,tanaman untuk pakan ternak, dan juga tanaman cabe yang siap dipetik kapan aja diperlukan. Jadi ibu gue ga perlu keluar duit buat beli cabe yang kadang harganya melambung tinggi. Ya, itulah di kampung atau desa. Apa aja bisa ditanam dan dimanfaatkan langsung, beda di kota-kota yang apa aja harus pake duit. 








Sekian cerita mudik 2016 gue kali ini. Sorry guys kalo sedikit telat publish hehehe. Semoga cerita ini bisa jadi referensi  buat kalian yang nanti pengen melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman, terutama ke Pacitan, Jawa Timur. Buat kalian yang ada di luar Pacitan, bisa aja maen ke kota yang dijuluki Kota 1001 Goa ini karena pesona wisata alamnya yang ga kalah kece dari tempat lain. 

 Related story:  Explore Pacitan : Pantai Siwil
                  
Sampai jumpa di kisah lainnya!





POPULAR POST