GUNUNG SLAMET: Menggapai Atap Jawa Tengah 3428 mdpl

Untuk para pecinta hiking, bisa menapaki puncak gunung-gunung tertinggi adalah suatu keinginan dan harapan. Sudah jadi bucket list sejak 2016 lalu, alhamdulillah tahun ini, tepatnya 17-18 Agustus 2017 lalu, gue diberi kesempatan untuk bisa merasakan dahsyatnya track menuju puncak 3428 mdpl, Gunung Slamet, via jalur Bambangan, Purbalingga, Jawa Tengah. Seperti biasa, cerita pendakian kali ini pun akan gue jabarkan dalam bentuk artikel, dan juga video di YouTube. Check this out!


Sebelum masuk ke cerita perjalanan, gue pengen bahas sekilas tentang Gunung Slamet ya guys! Gunung Slamet secara administratif terletak di beberapa kabupaten, yakni Brebes, Tegal, Banyumas, Purbalingga, dan Pemalang. Masing-masing wilayah kabupaten pun punya jalur-jalur pendakian yang bisa diakses oleh para pendaki yang ingin menuju puncak tertinggi kedua Pulau Jawa ini. Gunung dengan ketinggian 3428 mdpl ini menyuguhkan track pendakian yang begitu menguras tenaga dan nyaris tanpa ‘bonus’. OK, mungkin ada yang belum tahu apa istilah bonus dalam pendakian. Jadi yang dimaksud ‘bonus’ adalah track atau jalan yang rata/landai saat mendaki gunung. Jadi saking capeknya nanjak terus, pas nemu jalan landai kita sebut bonus hehehe. Gunung Slamet ini termasuk gunung berapi dan masih aktif sampai sekarang, gak heran kalau sekitar tahun 2014 silam gunung ini pernah mengalami erupsi dan mengharuskan jalur pendakian ditutup. Di puncaknya pun terlihat kawah yang diameternya cukup lebar dan masih menunjukkan aktivitas vukaniknya. Dan untuk jalur pendakiannya yang paling terkenal dan paling dilintasi adalah jalur Bambangan di Purbalingga. Gue dan temen-temne pun memutuskan untuk pilih jalur ini karena emang lebih recommended dan paling ramai dilalui pendaki yang ingin menuju puncak Slamet.

View Gunung Slamet dari basecamp Bambangan, Purbalingga

Jumat, 17 Agustus 2017

Jam 4 pagi, gue udah sampe di terminal Purwokerto, setelah menempuh perjalanan naik bus dari Jakarta (Kalideres) selama kurang lebih 10 jam. Gue udah janjian sama temen-temen, Wildan yang berangkat dari Solo, dan adiknya, Faishal yang berangkat dari Bandung. So, meet point kita di terminal Purwokerto. Setelah pagi sekitar jam setengah 7, kita berangkat menuju basecamp Gunung Slamet di Bambangan, Purbalingga. Butuh waktu sekitar 2 jam menuju basecamp Bambangan, dengan carter angkot dari terminal Purwokerto. Untuk biaya carter angkot, kita arus pinter-pinter nego aja kalau mau dapet harga miring hehehe. Kemarin gue bertiga kebetulan bareng rombongan lain dari Bandung juga, 3 orang (jadi berenam) kena Rp300.000. Jadi tiap orang itungannya Rp50.000. Sepanjang jalan menuju basecamp, kita bakal disuguhkan lebatnya hutan dan rindangnya pepohonan yang dibelah oleh jalanan kecil beraspal yang sesekali hancur dan memberikan sensasi “gajluk-gajluk” hahaha. Karena jalur yang dilewati, kata sopir, motong jalan lewat Baturaden, tembusnya di daerah Serang, Karangreja, Purbalingga. Dan setelah kurang lebih 2 jam menikmati jalanan berkelok-kelok dan menanjak, sampailah kita di basecamp Bambangan, Purbalingga. 

Basecamp jalur Bambangan ini adalah sebuah bangunan mirip bangunan balai desa yang dalemnya dipakai untuk registrasi dan pengurusan ijin sebelum mendaki. Di sini juga bisa dipakai para pendaki yang beristirahat atau bersiap-siap melakukan pendakian. Gak cuma itu, fasilitas pendukung seperti toilet pun ada di sini dan bersih. Halaman depannya yang cukup luas bisa dipakai parkir kendaraan. Di sekitar basecamp yang terletak di perkampungan ini banyak rumah-rumah warga yang merangkap sebagai warung yang menjajakan aneka menu masakan dan tempat istirahat juga loh. Jadi jangan khawatir buat kalian yang yang pengen istirahat tapi di basecamp udah penuh. Karena kalo lagi musim liburan, biasanya basecamp dipenuhi para pendaki dari beberapa daerah.

Registrasi & isi buku tamu
View dari basecamp

Parkiran basecamp Bambangan


Setengah 10 pagi, kita melakukan registrasi dengan mengisi buku tamu. Biasanya buku tamunya dikelompokkan berdasarkan wilayah asal pendaki, seperti Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dll. Biaya untuk registrasi pendakia gunung Slamet adalah Rp15.000 , dengan rincian Rp 10.000 untuk registrasi dan Rp5.000 untuk bibit pohon yang akan dibawa nanti. Bibit pohon? Yap! Setiap pendaki diharuskan membawa bibit tanaman pohon yang sudah disiapkan di basecamp buat dibawa nanti pas mulai pendakian dan diserahkan ke ‘petugas’ yang ada di track menuju pos 1. Jadi gak dibawa sampai puncak gunung kok guys.. Selain itu kita juga ‘dibekali’ peta yang bisa memandu kita selama perjalanan dan untuk pertimbangan waktu tempuh. Di basecamp ini pun juga menjual pernak-pernik seperti gantungan kunci, kaos, dan masih banyak lagi, yang pastinya khas Gunung Slamet. Di sini menjual dan menyewakan perlengkapan-perlengkapan pendakian juga seperti gas untuk masak, kompor, nesting, dan lain sebagianya. And finally, setelah persiapan kita udah cukup, termasuk repacking juga, jam 10.30 kita putuskan untuk segera bergerak memulai pendakian menuju Pos 1, bareng juga sama rombongan 3 orang dari Bandung tadi.
Gapura menuju jalur pendakian

_____

BASECAMP -> POS  1 (PONDOK GEMBIRUNG: 1937 mdpl)
Jarak : ± 1950 m
Perkiraan waktu tempuh : 2 jam
Realita  :  2 jam

Perjalanan dari basecamp menuju pos 1 ini mengingatkn gue pas naik ke Ciremai 2015 lalu. Di mana track pertama adalah kita melewati ladang sayuran, trus masuk ke area hutan pinus. Perjalanan pun gak sebentar, perlu waktu 2 jam untuk sampe di pos 1  yang bernama Pondok Gembirung. 

Track awal, area ladang sayuran


Di tengah perjalanan menuju pos 1 ada sebuah shelter yang dipenuhi warung yang menjajakan makanan ringan dan juga aneka minuman untuk pelepas dahaga. Dan yang paling bikin ngiler adalah potongan-potongan semangka yang siap menyambut kita yang sedang lapar atau haus hehehe. Rasakan sensasi makan semangka di gunung guys, cuma Rp 3.000 per potong. Jangan protes kalau harganya mahal ya, wajar, bawa nanjak ke warung yang ada di jalur pendakiannya pun perlu tenaga. Sempat seneng banget kalo kita udah sampe pos 1, tapi ternyata shelter tadi hanyalah pos bayangan hahaha.

Tim gabungan

Gardu pandang, di bawah sini kita serahkan bibit pohon yang kita bawa dari basecamp.

Bonus dikit

Pos bayangan sebelum pos 1.
Jajan dulu

OK lah, setelah istirahat bentar, kita lanjut ke pos 1 dengan medan yang terus menanjak melalui hutan pinus, yang masih didominasi dengan track tanah. Sempat kebayang seandainya pas naik kemarin lagi hujan, betapa licinnya jalur itu. Untungnya cuaca sedang bersahabat. 

Masuk hutan pinus

Sampai pos 1

Dua jam sudah kita ‘pemanasan’, sampailah kita di pos 1, Pondok Gembirung. Pos 1 ini berupa bangunan semi permanen yang dibangun untuk tempat berteduh kalau-kalau lagi hujan. Di sekitarnya pun ada beberapa warung kecil dengan dagangan sama dengan yang ada di pos bayangan tadi. Yang khas dari warung-warung yang berjualan di track pendakian Gunung Slamet ini adalah: tempe mendoan, semangka, nasi bungkus, minuman, dan masih ada lagi. Dan ternyata warung-warung ini ada sampai pos 5 ! Weww!! Penasaran? Coba aja ke gunung Slamet hehehe.




POS 1 -> POS  2 (PONDOK WALANG: 2256 mdpl)
Jarak : ± 725 m
Perkiraan waktu tempuh : 1,5 jam
Realita  :  2 jam

Menuju pos 2, Pondok Walang, perjuangan mulai bener-bener terasa. Gak ada bonus! Nanjak aja terus sampe gue jadian sama Isyana hahaha. Track nya masih sama dengan menuju pos 1, tapi mulai masuk ke area hutan belantara yang dipenuhi dengan pepohonan besar, bentuknya kadang aneh, dan terkesan pohon-pohon yang ada di jaman purbakala yang dipenuhi tanaman merambat atau apa itulah namanya hehehe. Biar lebih jelas, coba lihat aja foto-fotonya di bawah. Tapi kalo dipikir-pikir instagramable juga guys.. hehehe. Lebih lambat setengah jam dari prediksi, jam setengah 3 sore kita baru tiba di pos 2 yang kondisinya gak jauh beda dengan pos 1. Gak ada bangunan dari bedeng di sini, hanya beberapa warung dan tempat duduk dari kayu dan bambu untuk melepas lelah. Pepohonan tinggi dan lebat seakan mengingatkan kita kalau kita emang bener-bener udah masuk kawasan belantara Gunung Slamet. Di area ini cukup bisa dipakai untuk mendirikan tenda.

Menuju Pos 2

nemu aja spot bagus hehhe

Yeay! Pos 2.



POS 2 -> POS 3 (PONDOK CEMARA: 2510 mdpl)
Jarak : ± 625 m
Perkiraan waktu tempuh : 1,5 jam
Realita  :  1,5 jam

Gak banyak perbedaan jalur menuju pos 3 dari jalur menuju pos-pos sebelumnya. Cuma jalur yang kita lewati akan semakin menanjak tanpa ampun dan sesekali ‘dihadang’ akar-akar pepohonan yang menyambut perjalanan kita. Hati-hati kesandung akar. Gak jarang kita harus benar-benar merangkak karena terjalnya jalur yang ita lalui. Tenang, akar-akar atau ranting-ranting kuat akan membantu kita untuk sekedar pegangan. Hari semakin sore, sekitar jam 4 sore lewat gue, Wildan, dan Faishal pun sampai di pos 3. Sedangkan rombongan dari Bandung yang tadi sempat bareng sampai pos 2 udah duluan.  Gak mau lama-lama berhenti di pos 3 karena hari udah sore dan menjelang petang, kita pun bergerak lagi menuju pos selanjutnya, pos 4!

Semangat pos 3 dikit lagi hehehe

YOSSSHH !!!

Ketemu di jalur ke Pos 3, para calon dokter dari Unsoed Purwokerto.
Lupa namanya :D



Masih ada tempat di Pos 3 untuk 'nenda'


POS 3 -> POS 4 (SAMARANTU: 2688 mdpl)
Jarak : ± 600 m
Perkiraan waktu tempuh : 1,5 jam
Realita  :  1 jam

Satu jam perjalanan dari pos 3, sampailah gue sore itu di pos 4, Pos Samarantu. Sekitar jam setengah 6 sore, udah mau maghrib, gue masuk ‘gerbang’ pos 4 yang ditandai dengan dua pohon besar yang seakan-akan membentuk gapura pintu masuk. Sedikit cerita, nama Samarantu ini konon diambil dari dua kata yakni Samar dan Hantu. Gak usah gue jelasin, gue udah merinding duluan, kampret! Hahaha. Cerita yang berkembang adalah pos 4 ini adalah titik sentral (cia elahh) atau pusatnya dunia gitu-gituan, sebut saja hal gaib. Jadi katanya dua pohon besar tadi pintu masuk menuju kerajaan gaib di Gunung Slamet.

"The gate"
Mungkin yang naik sini beberapa pernah mengalami cerita-cerita horor terutama saat berada di pos Samarantu ini. Makanya di pos 4 ini tidak dianjurkan untuk mendirikan tenda. Kalau kita mikir positif sih ya emang karena lahannya gak cocok aja buat ‘nenda’, karena lahannya terjal, trus banyak banget pepohonan besar nan lebat, trus banyak akar-akar menjalar di mana-mana. Jadi kurang strategis buat nge-camp. Tapi kalau baca-baca cerita di blog-blog tetangga, ya ada aja yang ‘nekad’ bikin tenda dan bermalam di situ, dan ada juga yang disuguhin suara-suara ganjil.... dan genap mungkin hahaha. Kebetulan gue pas lewat sini cuma berdua sama Wildan, sementar Faishal udah duluan, karena sore itu emang gue sama Wildan yang sering banget berhenti karena capek atau sekedar atur napas. Sejenak gue diem lihat sekeliling, sok-sok’an berani mentang-mentang masih terang. Gue ambil gambar beberapa jepretan, fokus ke tulisan di papan penanda kecil yang bertuliskan : POS SAMARANTU, buat dokumentasi dan juga video. Angin sore semilir lembut meniup area pos 4 yang sepi (untung gue gak merinding). Sempat preview hasil bidikan kamera gue barusan , dan gak ada yang macem-macem atau gambar ngeblur karena guncangan tangan gue atau kurang fokus. Semua OK. Gue denger Wildan ngajak segera lanjut lagi karena emang gak mau lama-lama di situ. Akhirnya kita lanjut menuju pos 5. (SAMPAI RUMAH PAS UDAH PULANG, SEMUA FOTO GUE YANG UDAH DI-PREVIEW TADI, 3 JEPRET HASILNYA BLUR SEMUA! TERIMAKASIH! SKIP!!)

Blur ya? Iya.


POS 4 -> POS 5 (SAMYANG RANGKAH: 2795 mdpl)
Jarak : ± 325 m
Perkiraan waktu tempuh : 45 menit
Realita  :  1 jam

Hari pun mulai gelap. Tinggal lah gue sama Wildan di track menuju pos 5 dari pos 4 tadi. Gak ketemu sama satu pendaki pun. Kaki juga mulai gak bisa di ajak kompromi, mulai keram. Salah satu solusi adalah berhenti, dan bolak balik berhenti. Sampai gue lihat jam tangan yang udah menunjukkan jam 6 maghrib, kiat berdua memutuskan buat benar-benar berhenti. Karena kayaknya gak pantes aja waktu maghrib tetap gas. Kita berhenti sambil ngobrol dan mengistirahatkan kaki yang dikit-dikit ‘minta berhenti’. Setelah 10 menit break, kita pun lanjut menuju pos 5 yang sepertinya udah gak jauh lagi. Track nya? Jangan ditanya, nanjak terus, akar-akar di tanah yang melintang juga masih suka ngaget-ngagetin kaki buat melangkah. Cuma cahaya headlamp yang menerangi jalan kita saat itu, dengan terus positive thinking, sampailah kita di bawah pos 5, yang udah terdengar suara Faishal yang dari tadi jalan dan sampai lebih dulu. Kita bertiga pun kumpul kembali. Waktu menunjkkan jam setenngah 7 malam. Suasana di pos 5 cukup ramai dengan tenda-tenda pendaki yang sampai di lokasi itu lebih dulu. Sampai kita kesulitan buat nyari lahan buat mendirikan tenda. Kita juga ketemu sama tenda dan rombongan Reyhan, tim dari Bandung yang tadi sempat bareng di awal track. Di sampingnya ada lahan kosong untuk ‘nenda’, meski agak miring dan gue pun menyarankan lahan itu ke Wildan dan Faishal. Tapi Faishal lebih merekomendasikan tempat pilihannya, sekitar 5-10 meter jauhnya dari lokasi gue tadi, dan agak ‘terpisah’ dari tenda-tenda pendaki lain. Gue bersikeras buat nolak bikin tenda di lahan pilihan Faishal dengan satu alasan yang gak mau gue ungkap saat itu dan sampai gue nulis artikel ini. Udah ya, intinya saat itu kita putuskan bangun tenda di tempat yang gue pilih, bukan egois sih, tapi karena lokasinya juga lebih deket sama tenda-tenda pendaki lain. Jadi kita bermalam di situ, masak dan makan seadanya karena udah terlanjur capek. Lokasi pos 5 ini juga ada beberapa warung kecil. Mesi lahannya berada di kemiringan, tapi ada beberapa lapak yang cocok untuk mendirikan tenda. Berada di bawah pepohonan rindang membuat aman dari terpaan angin secara langsung, ini juga salah satu pertimbangan kita juga buat camp di pos 5 (padahal rencana awal pengen di pos 6). It’s OK, lah... dan jam 10 malam pun kita putuskan buat tidur karena besok pagi-pagi kita masih punya misi: menggapai puncak Slamet.

Foto di samping tenda tempat nge-camp di sekitar Pos 5.

------------

Sabtu, 18 Agustus 2017

POS 5 -> POS 6 (SAMYANG KATEBONAN: 2909 mdpl)
Jarak : ± 300 m
Perkiraan waktu tempuh : 40 menit
Realita  :  30 menit

Niat gue pengen ajak Wildan sama Faishal buat start summit attack jam 2 atau jam 3 pagi, biar bisa sampai di puncak Slamet sepagi mungkin sambil hunting sunrise. Tapi Wildan lebih milih buat gak terlalu pagi-pagi banget, jadi kita jam 4 pagi baru start dari pos 5, tempat kita nge-camp. Padahal buat sampe ke puncak masih butuh waktu sekitar 3-4 jam lagi, dan mungkin lebih. Dan prediksi gue dengan jam 4 pagi baru start, pasti pas menuju puncaknya cuaca udah mulai panas. Tapi dengan bismillah, perlahan kita menuju pos 6 yang gak jauh dari pos 5. Meski udah sepi pendaki yang mulai summit, karena mostly udah pada jalan jam 2 dan jam 3, kita tetep jalan bertiga melawan dingin dan gelapnya belantara Slamet demi 3428 mdpl. Setengah jam perjalanan, sampailah kita di pos 6, Samyang Katebonan (tapi papannya salah tulis mungkin: Samyang Jampang)


POS 6 -> POS 7 (SAMYANG KENDIT: 3040 mdpl)
Jarak : ± 315 m
Perkiraan waktu tempuh : 1 jam
Realita  : 30 menit

Jarak tempuh antar pos mulai dari pos 5 ke atas emang udah gak sejauh pos-pos sebelumnya. Terbukti dari pos 5 ke 6, dan 6 ke 7 bisa kita tempuh dengan waktu setengah jam-an. Untuk tracknya tetap dengan tanjakan tanpa ampun dan kembali dengan suguhan track tanah berdebu. Kenapa berdebu? Karena musim kemarau. Parah banget debunya, so jangan lupa pakai masker atau buff deh! Beruntung kita nanjak gak pas bareng-bareng atau pas rame pendaki lain, gak kebayang kan ngebulnya debu jalanan kayak apa. Sesekali kita berhenti sekedar atur napas, sambil coba tengok langit dan pemandangan city light di bawah yang udah mulai sedikit nampak. Oia, pos 6 dan pos 7 ini masih recommended buat mendirikan tenda ya guys.. Lahannya masih cocok buat nenda, meski gak seluas di pos 5. Selain itu adanya pepohonan juga masih aman untuk melindungi terpaan angin atau badai secara langsung. Beda dengan pos 8, yang kondisinya udah mulai terbuka dan jarang pepohonan.

Naik ke gunung Slamet kita harus punya spare air yang cukup karena susah ditemukan sumber air di gunung ini. Infonya sih di jalur Bambangan ini ada sumber mata air di dekat pos 5 dan untuk ambilnya pun agak susah tracknya. Dan kebetulan karena kemarau, kemarin sumber airnya lai kering. Jadi persiapkan persediaan air yang cukup untuk kebutuhan masak dan minum selama di gunung ya..



POS 7 -> POS 8 (SAMYANG JAMPANG: 3092 mdpl)
Jarak : ± 80 m
Perkiraan waktu tempuh : 30 menit
Realita  :  15 menit

Ini track terpendek antar pos yang ada di jalur Bambangan menuju puncak Slamet. Mulai jarang pepohonan kecil dan sesekali mulai kita temui tanaman bunga edelweiss (jangan dipetik ya..). Saat itu kita sampai pos 8 sekitar jam 5 pagi lewat. Langit jingga pun mulai nampak perlahan. Meski kita yakin gak bakal bisa lihat sunrise dari puncak Slamet, tapi kita tetep enjoy dan happy saat itu. Karena kita makin dekat dengan pos 9 sebelum kita berjuang menerjang medan terjal khas gunung Slamet menuju puncaknya.

menuju pagi



POS 8 -> POS 9 (PELAWANGAN: 3172 mdpl)
Jarak : ± 110 m
Perkiraan waktu tempuh : 30 menit
Realita  :  1 jam

Jangan liat realita waktu tempuh kita menuju pos 9 ya, bukan karena kita lambat. Tapi pagi itu kita sempat berhenti bentar sekitar 20 menitan sebelum pos 9 buat enjoy sunrise moment dulu. Jadi sekita jam 6 pagi kurang, pas matahari terbit, di sebuah lahan di bawah sebelum  pos 9 ada semacem padang ilalang yang gak begitu tinggi dan rerumputan hijau. Di situ areanya bener-bener terbuka dan cocok buat menikmati view sunrise dan pemandangan daratan di bawah sana yang mulai terlihat jelas. Dari sini view Gunung Sindoro-Sumbing pun mulai nampak, begitu juga dengan Merbabu dan dataran tinggi Dieng.

Coba tebak itu gunung apa aja guys?


Wildan is hugging morning

Demi Edelweiss, ya, Wil? :D



Pagi itu cerah banget. Ini yang bikin kita makin semangat buat lanjut ke atas, ke puncak maksudnya. Sampai akhirnya kita tiba di pos Pelawangan (bukan Plawangan di Rinjani ya..) jam 7 pagi. Ingat, gak dianjurkan buat mendirikan tenda di sini. Lagian gak mungkin juga lah, sempit dan terbuka gitu. Bahaya kalau sewaktu-waktu ada badai. Dan pos 9 ini menjadi ‘gerbang’ menuju perjuangan selanjutnya menuju puncak dengan medan bebatuan terjal dan tanah keras, areal terbuka, tanpa pepohonan satu pun. Sepintas ala-ala mendaki puncak Semeru, tapi medan yang kita tempuh didominasi oleh kombinasi tanah padat, kerikil, bebatuan yang sewaktu-waktu juga bisa menggelinding dari atas. Dan kita benar-benar akan mendaki!

Lanjut pos 9 !

Ready to hike !


POS 9 -> PUNCAK (3428 mdpl)
Jarak : ± 600 m
Perkiraan waktu tempuh : 1,5 jam
Realita  :  1 jam

Jam 7 pagi, saat matahari udah mulai panas, gue mulai merangkak menuju puncak Slamet. Gak cuma gue tentunya, tapi masih banyak pendaki lain yang juga tengah berjuang menggapai puncak tertinggi di Jawa Tengah itu. Cukup kesulitan juga pas nanjak karena kerikil-kerikil yang kadang membentuk gundukan menyulitkan langkah gue buat terus menuju atas. Saran dari gue, dan ini pengalaman yang gue dapet dari pendakian ke Gunung Guntur di Garut dulu, cari medan yang padat dan kuat buat diinjak selama mendaki. Jangan menginjak gundukan pasir karena pasti kita bakal mundur lagi karena gampang longsor. Karena di gunung Slamet ini lebih banyak track tanah padat dan batu, gue lebih milih nyari medan tersebut ketimbang bersusah-susah di gundukan pasir yang juga malah bikin debu berhamburan. Tapi tetap waspada juga karena batu yang kita injak untuk pijakan atau pegangan mudah longsor dan malah membahayakan. Jadi cari batu atau pijakan yang kuat. Nah sebaliknya saat turun, lebih gampang lewat track berpasir atau kerikil, karena lebih cepat gerak ke bawahnya mengikuti ‘longsoran’ gundukan kerikil. Tapi tetap hati-hati guys! Tetap ingat titik awal kita mendaki sebagai patokan saat kita turun. Mengingat sering banget akhir-akhir ini sering terjadi pendaki hilang karena nyasar gara-gara salah jalan saat turun dari puncak, dan bahayanya lagi malah nyasar jatuh ke jurang!




Matahari makin terik, meski masih pagi. Teriakan pendaki lain yang udah sampe puncak atau yang masih di medan pendakian terdengar mengiringi semangat pagi itu. Sesekali berhenti buat break dan minum atau sekedar atur napas. Tetap jangan lupa bawa bekal air minum selama menuju puncak, meski barang-barang yang berat seperti carrier kita tinggal di tempat camp. Jangan sampai dehidrasi saat mendaki. Dan setelah satu jam lamanya berjuang menerjang medan terjal, sampailah gue di puncak Gunung Slamet.

Top of 3428 mdpl

Terbuka. Pandangan terbuka 360 derajat. Awan-awan tipis yang menyelimuti langit di sekitar Jawa Tengah pagi itu mulai terlihat. Semilir angin yang membawa hawa dingin dan segar masih menemani. Celotehan-celotehan para pendaki mewarnai pagi hari di puncak tertinggi kedua di Pulau Jawa itu. Gue coba jalan menuju titik trianggulasi di mana terdapat papan penanda di mana puncak Slamet berada. Dari beberapa sumber yang gue baca, puncak Slamet punya nama lain puncak ‘Surono’. Entah kenapa. Tapi apapun itu, gue terpesona dengan suasana di titik 3428 mdpl ini. Kalau kita menghadap ke sisi barat, kita bisa lihat kawah dengan diameter yang lebar menganga dan berwarna putih yang menandakan kandungan belerang yang tinggi. Untuk menuju ke sana, kita harus menuruni medan yang gak begitu sulit dari atas puncak Slamet, lalu naik lagi ke sebuah punggungan gunung. Dari sana view kawah akan lebih jelas terlihat. Tapi pagi itu, gue pilih menghabiskan waktu di puncak Slamet aja hehehe..


Travelmates: Luffy & Panda hehehe


Kawah Gunung Slamet

Puas menikmati suasana puncak tertinggi di Gunung Slamet, sekitar jam 10 pagi gue dan temen-temen putusin buat turun kembali menuju tempat camp di pos 5. Matahari makin menyengat panasnya, tapi masih bisa tersapu dinginnya angin gunung yang menerpa. Waktu tempuh pas turun pastinya lebih cepet dibandingin pas muncak. Anggap aja dari pos 5 ke puncak tadi sekitar 4 jam. Nah, turunnya, cuma 2 jam. Separonya lah.. Tapi yang agak ganggu pas turun adalah debu di sepanjang track sampai pos 8 masih ‘ngebul’ parah. Tapi sebaliknya, kalo mungkin saat itu ujan, pasti track bakal licin dan ...rrrggghhh! Dan sekitar jam 12 siang, kita sampai di pos 5, gak langsung ke tenda tapi mampir dulu ke warung dan apa lagi kalo gak nyari semangka. Hahahaha...

Setelah masak, makan, dan beres-beres plus bongkar tenda, jam 2 siang gue dan temen-temen turun buat kembali ke basecamp Bambangan. Perjalanan pulang juga ga kalah seru, karena bawaannya happy dan pengen segera sampe basecamp. Setiap pos kita berhenti buat jajan semangka hehehe. Pokoknya waktu turun, semangka jadi moodbooster kita saat itu. Sampai di pos 1, sore hari sekitar jam 5 dan cuaca mulai berkabut pas masuk hutan pinus dan agak sedikit gerimis. Alhamdulillah meski pas maghrib kita masih di perjalanan menuju basecamp, tepatnya di dekat gardu pandang, meski kabut tebal gak ada halangan atau yang aneh-aneh. Padahal waktu itu suasananya udah kaya di film-film horor wkwkwk. 

Kabut di jalur Pos 1  menuju kembali ke basecamp



Dan setengah 7 malam, kita sampai dengan selamat di basecamp Bambangan, titik awal pendakian kita. Alhamdulillah banget. Sampai di basecamp pun kita harus lapor ke petugas, sekaligus ambil KTP yang sebelumnya ditinggal di basecamp. Suasana malam itu juga cukup rame oleh pendaki yang juga baru turun. Sempat mandi di kamar mandi yang ada di belakang basecamp juga ,meski sambil kejang-kejang karena airnya dingin banget hehehe. setelah itu gue sama temen-temen mutusin buat nyari tempat istirahat sekitar basecamp karena gak memungkinkan istirahat di basecamp dengan kondisi rame kayak gitu. Dan kita juga ga mungkin balik ke Purwokerto karena udah gak ada kendaraan kesana. Akhirnya kita dapet tempat istirahat di rumah seorang warga yang ada gak jauh dari basecamp dengan tarif Rp 15.000 per orang. Karena kita bertiga, yang seharusnya bayar Rp45.000, kita kasih aja deh Rp 50.000 sekalian bertiga. Di situ juga kebetulan ada warung makannya juga, jadi keesokkan harinya kita juga sekalian beli sarapan disitu. Katanya sih di sekitar basecamp Bambangan emang ada beberapa rumah yang biasa dipake tempat istirahat sama pendaki-pendaki yang baru turun dari Gunung Slamet. Murah pula tarifnya hehee.. Dan di rumah yang kita tempatin tadi banyak banget stiker dari beberapa komunitas pendaki yang tertempel di kaca jendela, tandanya emang sering banget tempat ini dipake lokasi istirahat oleh pendaki. Pagi harinya, setelah sarapan, kita pamit dan balik lagi ke Purwokerto, terutama Wildan yang pagi itu balik duluan karena ngejar kereta jam 10 pagi ke Solo. Sedangkan gue dan Faishal pulang jam 9 pagi. Agak kesulitan juga pagi itu nyari angkutan langsung ke Purwokerto karena emang gak ada trayeknya. Jadi mau gak mau bisa ikut angkot balikan yang abis nganter pendaki dari Purwokerto ke Bambangan. Alternatif lain adalah carter mobil dari Bambangan, biasanya ada aja sih yang nawarin jasa carteran. Lebih murah kalo bareng-bareng jadi biaya patungannya lebih murah. Waktu itu kita dapet barengan anak-anak dari Jakarta, 3 orang yang juga mau balik ke Purwokerto tapi mampir dulu ke wisata Baturaden. Ongkos carter mobil waktu itu Rp 375.000 dibagi 5 orang, jadi tiap orang kena Rp 75.000. Jalan-jalan dulu ceritanya sebelum balik ke Purwokerto, lagian waktu itu juga gue dapet kereta ke Jakarta yang jam 10 malem. So masih ada waktu seharian buat maen-maen di Purwokerto. Baturraden ini ada di kaki gunung Slamet juga loh, wisatanya juga banyak. Nah, mau tau kemana tujuan kita waktu itu? Tunggu aja, ceritanya bakal gue share di blog ini juga guys..! Pokoknya perjalanan mendaki gunung tertinggi di Jawa Tengah kali ini bener-bener menyenangkan! Cuaca mendukung, gak ada kendala, perjalanan lancar, dan turun dengan selamat, sama dengan arti nama gunungnya, Slamet. Satu kata tentang gunung Slamet, terutama track-nya:  M A N T A P.

_____________

Thank's udah nyimak artikel gue, jangan lupa follow instagram gue juga @gusstrav adn subscribe channel YouTube gue juga: GUSSTRAV 












POPULAR POST